Masjid Istiqlal Jakarta

Bangsa Indonesia patut bangga dengan berdirinya Masjid Istiqlal di Jakarta. Pasalnya, masjid ini tidak hanya sebagai ‘Masjid Negara’ Indonesia, tetapi juga menyandang predikat sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara dan salah satu masjid terbesar di Indonesia. Masjid Istiqlal juga menjadi simbol toleransi beragama di Indonesia, pembangunan Masjid Istiqlal oleh para pendiri negara dengan sengaja berseberangan dengan Katedral, serta desain masjid Istiqlal dirancang oleh arsitek Frederich Silaban yang beragama Kristen Protestan.

Kata ‘Istiqlal’ (bahasa arab) memiliki arti merdeka. Pemilihan nama masjid negara ini dengan nama ‘Istiqlal’ merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. atas sebuah kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia. Nama Istiqlal ini selanjutnya juga menjadi nama Masjid Indonesia di Sarajevo, Ibukota Bosnia & Herzegovina, yang dana pembangunannya berasal dari sumbangan muslim Indonesia sebagai hadiah untuk muslim Bosnia & Herzegovina yang baru saja merdeka dari penindasan berdarah oleh etnis Serbia.

Masjid ini sesuai kesepakatan diberi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti: kebebasan, lepas atau kemerdekaan. Secara istilah kata Istilah berarti rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat berupa kemerdekaan bangsa. Ide pembangunan masjid Istiqlal sendiri muncul empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Pembangunannya melibatkan tokoh-tokoh hebat Indonesia, diantaranya Ir. Soekarno, Ir. H. Mohammad Hatta dan lain sebagainya.

Masjid Istiqlal terletak di Jalan Taman Wijayakusuma, Pasar Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Indonesia. Lokasinya ada di sebelah timur kawasan Tugu Monas. Dibangun di atas tanah bekas Taman Wilhemina, bagian bawahnya ada reruntuhan benteng Belanda dan sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan, berdekatan pula dengan Istana Merdeka.

Pembangunan masjid Istiqlal memakan waktu selama 17 tahun, dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961 dan baru diresmikan pada tanggal 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti di area tangga pintu As-Salam. Dana pembangunan berasal terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (Tujuh Milyar Rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua juta Dollar AS).

Leave a Comment